Keutamaan Kalimat Tauhid Berdasarkan Hadits
Keutamaan Kalimat Tauhid Berdasarkan Hadits adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 25 Safar 1448 H / 11 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Keutamaan Kalimat Tauhid Berdasarkan Hadits
Amal yang Paling Utama
Di antara keutamaan kalimat laa ilaaha illallah adalah bahwa kalimat ini termasuk amal yang paling utama dan paling besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengucapkan laa ilaaha illallah disamakan dengan memerdekakan budak. Hal ini menunjukkan besarnya pahala kalimat tersebut.
Orang yang mengucapkan kalimat tauhid akan mendapatkan perlindungan dari setan. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ
“Barang siapa mengucapkan, ‘Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala puji bagi-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu),’ sebanyak seratus kali dalam sehari, ia memperoleh pahala seperti memerdekakan sepuluh budak, dicatat untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan ia terlindungi dari setan pada hari itu hingga petang. Tidak ada seorang pun yang mengamalkan sesuatu yang lebih utama daripada amal tersebut, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan anjuran mengucapkan kalimat tersebut setiap pagi dan petang:
لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Jumlah yang disebutkan dalam hadits adalah seratus kali.
Lihat juga: Dzikir Pagi
Dalam hadits lain, dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa orang yang mengucapkannya sepuluh kali memperoleh pahala seperti memerdekakan empat orang dari keturunan Ismail. Dengan demikian, terdapat pilihan untuk mengamalkannya sepuluh kali atau seratus kali. Yang lebih utama adalah seratus kali.
Ucapan yang Paling Utama
Keutamaan lainnya, laa ilaaha illallah merupakan ucapan paling utama yang diucapkan oleh para nabi.
أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Ucapan paling utama yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan pada sore hari Arafah adalah: Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.” (HR. Ath-Thabrani)
Sore hari dalam hadits tersebut dimulai sejak dzuhur hingga magrib. Pada hari Arafah, dianjurkan memperbanyak ucapan: laa ilaaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.
Dalam lafadz lain:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.”
Keutamaan ini menunjukkan kedudukan laa ilaaha illallah yang sangat tinggi. Semua nabi berdakwah kepada kalimat tauhid tersebut.
Memberatkan Timbangan Kebaikan
Laa ilaaha illallah dapat memberatkan timbangan kebaikan dibandingkan timbangan dosa pada hari kiamat. Setiap dosa dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Catatan-catatan keburukan itu kelak akan ditimbang.
Hal ini disebutkan dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad dan Imam Tirmidzi dalam Jami’ Tirmidzi.
يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُؤُوسِ الخَلَائِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِنْهَا مَدَّ البَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هٰذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ عَزَّ وَجَلَّ: أَلَكَ عُذْرٌ أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيَهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ عَزَّ وَجَلَّ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هٰذِهِ البِطَاقَةُ مَعَ هٰذِهِ السِّجِلَّاتِ؟! فَيَقُولُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ البِطَاقَةُ.
“Dipanggillah seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibentangkanlah untuknya sembilan puluh sembilan gulungan catatan (dosa), yang setiap gulungannya sejauh mata memandang.
Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepadanya: ‘Apakah ada sesuatu dari (catatan) ini yang engkau ingkari?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Tidak, wahai Rabbku.’
Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Apakah engkau memiliki uzur (alasan) atau kebaikan?’ Laki-laki itu merasa takut lalu menjawab: ‘Tidak ada, wahai Rabbku.’
Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Bahkan, sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sungguh pada hari ini tidak ada kedzaliman atasmu.’
Maka dikeluarkanlah untuknya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis di dalamnya: ‘Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya).’
Laki-laki itu berkata: ‘Wahai Rabbku, apa artinya kartu ini dibandingkan dengan gulungan-gulungan catatan (dosa) yang begitu banyak ini?!’
Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didzalimi.’
Rasulullah bersabda: ‘Maka diletakkanlah gulungan-gulungan catatan dosa tersebut di satu daun timbangan dan kartu itu di daun timbangan lainnya. Maka terangkat/terpental (ringan) gulungan-gulungan catatan dosa itu, dan menjadi beratlah kartu tauhid tersebut.`” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Hal ini menunjukkan bahwa hamba tersebut mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan. Namun, tidak setiap orang yang mentauhidkan Allah akan memperoleh nasib yang sama pada hari kiamat. Pelaku dosa besar berada di bawah kehendak Allah.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa [4]: 48)
Orang dalam kisah tersebut termasuk orang yang Allah kehendaki untuk diampuni. Karena itu, terdapat orang yang mentauhidkan Allah tetapi tetap diadzab.
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“Orang-orang kafir itu pada suatu saat nanti menginginkan sekiranya mereka dahulu menjadi orang-orang Muslim.” (QS. Al-Hijr [15]: 2)
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang-orang yang mentauhidkan Allah, meskipun diadzab di dalam neraka, pada akhirnya akan dikeluarkan darinya. Ketika seluruh orang Islam telah diangkat dari neraka, orang-orang kafir berharap agar dahulu mereka menjadi Muslim. Berarti ada orang yang mentauhidkan Allah ternyata masuk neraka.
Kualitas tauhid setiap orang berbeda. Semakin baik kualitas tauhid seseorang, semakin besar kemampuannya menghancurkan dosa-dosa yang banyak. Sebaliknya, semakin lemah kualitas tauhid, semakin lemah pula pengaruhnya dalam menghapus dosa.
Kewajiban setiap Muslim adalah memeriksa kualitas tauhid, tawakal, dan cintanya kepada Allah. Seseorang terkadang telah mempelajari tawakal, tetapi penerapannya masih lemah.
Manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam amal. Tauhid yang ada di dalam hati juga bertingkat-tingkat. Semakin baik tauhid seseorang, semakin jauh ia dari maksiat.
Orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab memiliki tauhid yang sangat kuat. Mereka bahkan meninggalkan permintaan untuk dirukiah, padahal meminta rukiah dihukumi makruh menurut para ulama. Kesempurnaan tauhid membuat mereka meninggalkan perkara yang makruh, terlebih lagi perkara yang haram.
Manusia bertingkat-tingkat dalam amal sesuai dengan iman yang ada di dalam hati mereka. Banyak orang mengucapkan laa ilaaha illallah, tetapi keimanannya di dalam hati lemah. Ucapan tersebut tidak mencegahnya dari dosa-dosa besar karena rasa takut kepada Allah masih lemah.
Lemahnya keimanan membuat laa ilaaha illallah tidak cukup kuat untuk menghancurkan dosa-dosa. Karena itu, sebagian orang harus dibersihkan di dalam neraka.
يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ.
“Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat keimanan seberat biji gandum yang lebih kecil. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat keimanan seberat zarah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang tauhidnya belum mampu membersihkan dosa-dosanya akan dimasukkan ke dalam neraka dan diazab sesuai dengan dosa-dosanya. Setelah dosa-dosanya habis, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari, ia akan mati dan menjadi arang. Kemudian, ia mendapatkan syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Orang yang dikeluarkan dari neraka diangkat dalam keadaan menjadi arang hitam. Kemudian, ia dilemparkan ke Sungai Al-Hayah (Kehidupan). Allah memerintahkan penduduk surga untuk mengguyurkan air surga kepadanya. Setelah itu, ia tumbuh seperti biji yang tumbuh di pinggir aliran air. Bagian yang terkena matahari berwarna putih, sedangkan bagian yang tidak terkena matahari berwarna kuning.
Hal ini menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah memiliki tingkatan sesuai dengan keimanan yang ada dalam hati mereka. Kualitas tauhid dan keimanan seseorang berbeda-beda, dan perbedaan itu tampak dalam amalnya.
Ada orang yang keimanannya kuat sehingga sebelum adzan berkumandang ia sudah berada di masjid dan selalu menempati shaf pertama. Ada pula yang baru berangkat ketika adzan berkumandang, bahkan sering menjadi makmum masbuk dan tidak pernah hadir tepat waktu. Sebagian lainnya malas pergi ke masjid. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan keimanan.
Keutamaan laa ilaaha illallah sangat agung. Namun, keutamaannya tidak cukup dipahami sebatas ucapan. Setiap Muslim wajib mempelajari makna, syarat, rukun, dan pembatal-pembatal laa ilaaha illallah.
Jangan sampai seseorang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan mantap, tetapi tetap mendatangi dukun serta melakukan praktik-praktik mistik dan kesyirikan. Banyak orang mengucapkan dzikir laa ilaaha illallah, tetapi tetap mendatangi dukun dan melakukan praktik mistik karena tidak memahami makna laa ilaaha illallah.
Hakikat laa ilaaha illallah mengharuskan seseorang berlepas diri dari seluruh jenis kesyirikan dan menjauhi segala perkara yang dapat menjerumuskan kepada kesyirikan.
Orang-orang Quraisy memahami konsekuensi laa ilaaha illallah. Jika mereka mengucapkannya, berarti yang disembah dan diibadahi hanya Allah. Mereka harus meninggalkan segala sesuatu selain Allah. Adapun banyak orang pada zaman sekarang tidak memahami makna laa ilaaha illallah dan makna ilah. Mereka menganggap ilah hanya berkaitan dengan rububiyah saja.
Download MP3 Kajian Tentang Keutamaan Kalimat Tauhid Berdasarkan Hadits
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Keutamaan Kalimat Tauhid Berdasarkan Hadits” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56469-keutamaan-kalimat-tauhid-berdasarkan-hadits/